7 Jenis Motif Kain Tenun Khas Desa Sade, Lombok Tengah dan Makna Motifnya

Kain Tenun Khas Desa Sade  Lombok Tengah, foto :gerbanglombok.co.id

Desa Sade, Lombok Tengah, NTB merupakan salah satu desa wisata yang masih mewarsi kebudayaan Sasak sejak zaman Kerajaan Penjanggik di Praya Kabupaten Lombok Tengah.  Salah satu warisan turun temurun masyarakat desa sade adalah kegiatan Nyesek atau menenun. Kegiatan menenun atau nyesek menjadi keterampilan wajib bagi perempuan Desa Sade. Zaman dahulu, perempuan Suku Sasak belum boleh menikah jika belum bisa menenun karena menenun merupakan indikator kedewasaan perempuan Suku Sasak.

Kain Tenun khas Desa Sade memiliki motif khas yang berbeda dengan Kain Tenun Desa Sukarara, Lombok Tengah. Kain tenun Desa Sade awalnya hanya tenun polos saja yaitu tenun berang dan tenun bebasak, kemudian salah seorang warga Desa Sade diberi petunjuk oleh leluhur mereka melalui mimpi untuk membuat tenun bermotif lurik yaitu yang hanya dibuat pada saat upacara mosan yaitu upacara yang hanya dilakukan jika ada keluarga yang memiliki anak dan akan dikhitan, upacara tersebut memakan waktu 3 minggu dan selama itu akan dilakukan pembuatan tenun yang pengerjaannya pada tiap hari sabtu selama upacara yang diberi nama kain Tenun Umbak yang kegunaannya dipercaya hingga saat ini yaitu untuk menggendong anak kecil agar tidak cengeng.  Kemudian setelah Tenun Sabuk Antang dan Kain Tenun Tapok Kemalo dirasa oleh penduduk Desa Sade belum sempurna karena hanya motif garis dengan satu arah saja yang dikenal dengan motif lurik, maka tenun tersebut dikembangkan menjadi sebuah kain tenun yang dapat digunakan sebagai kain atau sarung dengan motif garis yang berbeda yang memiliki kombinasi dua arah garis hingga membentuk sebuah motif kotak dan memiliki makna yang berbeda pula pada setiap kain tenun.

Dari zaman dahulu sampai saat ini pewarna yang digunakan untuk mewarnai kain tenun khas Desa Sade adalah berbahan dasar alami yang diambil dari sekitar tempat tinggal. Sumber bahan pewarna mereka yaitu dari tumbuhan berupa daun, buah, akar, maupun kulit pohon. Pewarna alam yang pertama diketahui oleh masyarakat Desa Sade untuk mewarnai kain tenun mereka adalah daun Nila (Taum) yang terdapat disekitaran sawah. Daun Nila menghasilkan warna hitam. Kemudian seiring dengan berjalannya waktu masyarakat Desa Sade mencari bahan alami yang lainnya yang dapat memperoleh warna yang berbeda agar mereka dapat membuat kain tenun dengan warna-warna yang sesuai keinginan namun tetap berbahan dasar dari alam diantaranya warna kuning yang dihasilkan dari kunyit, warna merah yang berasal dari tumbuhan Mengkudu, warna hijau berasal dari daun Kecipir, dan warna merah muda berasal dari serabut kelapa. Sampai saat ini Desa Sade masih mempertahankan kealamian tenunan mereka dengan berbagai warna.

Pada dasarnya motif kain tenun yang ada di Desa Sade memiliki motif garis yang memiliki arti kehidupan yang pada saat memulai rumah tangga bisa diluruskan segala urusan tanpa adanya gangguan dan seperti halnya dengan garis yang lurus. Garis lurus dimaknai dalam kehidupan mereka ialah ketika dalam berkehidupan yang tetap abadi dan makmur, segala urusan yang dikerjakan akan mulus dan lancar seperti garis yang lurus. Motif  Kain Tenun khas Desa Sade diantaranya adalah: Selolot, Tapok Kemalo, Batang Empat, Ragi Genap, Kembang Komak, dan Kain Bereng (Hitam).

1. Motif Selolot

Kain tenun Khas Desa Sade, Lombok Tengah Motif Selolot
Kain tenun Khas Desa Sade, Lombok Tengah Motif Selolot

Motof Selolot berasal dari kata selolok (Bahasa Sasak) yang bisa dikatakan perjalanan. Kain Selolot memiliki motif garis berwarna hijau yang dipercayai oleh masyarakat Desa Sade memiliki kesejukan, Kain Tenun Motif selolot diberi lima warna mengacu pada rukun Islam yang banyaknya ada LIma. Oleh sebab itu untuk mendapatkan surga yang dijanjikan oleh Allah SWT maka orang Islam harus mengerjakan rukun-rukun islam tersebut.

Pada zaman dahulu kain tenun motif selolot digunakan untuk alas pada mayat, mereka percaya bahwa kain selolot akan memberikan rasa sejuk dan nyaman kepada seseorang yang meninggal tersebut. Akan tetapi dengan perubahan zaman, masyarakat setempat beralih dalam penggunaan kain tersebut yaitu digunakannya kain Selolot pada saat upacara adat Nyongkolan (salah satu prosesi pernikahan adat Lombok). Kain ini juga biasa dipergunakan untuk bawahan perempuan dan bisa juga untuk bawahan laki-laki saat menggunakan pakaian adat Suku Sasak. Dan bisa juga untuk menggantikan kain pelung yang digunakan untuk bebengkung (ikat pinggang).

2. Motif Tapok Kemalo

Kain tenun Khas Desa Sade, Lombok Tengah Motif Tapok Kemalo
Kain tenun Khas Desa Sade, Lombok Tengah Motif Tapok Kemalo

Kain Tenun Motif Tapok Kemalo memiliki motif garis lurus dan memiliki warna tepi dan tengah berwarna merah. Kain Tenun bermotif Tapok Kemalo menggunakan empat kombinasi warna diantaranya adalah: putih, merah, hitam dan merah hati, dengan warna dasar yaitu hitam dan pada kain ini menggunakan motif garis.

Kain tenun dengan Motif Tapok Kemalo biasanya digunakan untuk bebengkung atau dodot yaitu semacam ikat pinggang yang memiliki panjang 30 cm dan lebar 25 cm, pada saat Suku Sasak bergembira karena hasil panennya yang melimpah dan pada upacara adat lain nya.

Motif kain tenun Tapok Kemalo menyimbolkan bahwa kehidupan manusia yang ingin aman dan tentram di hidupnya tidak pernah luput dari empat kepribadian yang harus dijalani yaitu mensucikan hati dari sifat-sifat tercela disimbolkan dengan warna (putih), jangan pernah untuk angkuh, sombong atau sifat tercela lainnya disimbolkan dengan warna (merah), saling berbagi sesama manusia dan dengan mahluk tuhan lainnya disimbolkan dengan warna (merah marun atau merah hati) dan yang terakhir adalah mengingat bahwa kita manusia akan kembali ke pada Sang Pencipta disimbolkan dengan warna (hitam).

3. Motif  Batang Empat

Kain tenun Khas Desa Sade, Lombok Tengah Motif Batang Empat
Kain tenun Khas Desa Sade, Lombok Tengah Motif Batang Empat

Kain Tenun motif Empat memiliki motif garis berwarna hijau tua dan berwarna dasar hitam, Kain Tenun Batang Empat juga memiliki motif garis berwarna kuning dan berwarna dasar hitam.

Kain dengan motif batang empat biasa digunakan dalam kegiatan adat seperti dalam pelaksanaan ajen-ajen, digunakan sebagai bebengkung (sabuk) pada saat Nyongkolan dan Nyelabar yaitu mendatangi keluarga sang perempuan pada prosesi pernikahan adat Suku Sasak. Lombok.

Warna kuning melambangkan kesejukan untuk setiap orang yang meninggal. Sedangkan warna hitam melambangkan manusia yang terbuat dari tanah dan akan kembali kepada asal mula penciptaan manusia yaitu tanah. Adapun pemahaman dari berbagai informan bahwa motif batang empat ini memiliki makna menjaga persatuan antar suku (sesama manusia) karana asal mula dikatakan Batang Empet itu Batang artinya penjaga sedangkan Empet itu artinya menutup. Jadi kalau digabungkan memiliki makna manusia yang ingin selalu aman dan tentram haruslah menjaga persatuan antar sesama.

Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa pada motif Batang Empat ini merupakan kain yang pada awalnya digunakan untuk menutupi mayat. Dikarenakan kain yang diperkirakan memiliki kesejukan sehingga jenazah tersebut mendapatkan kesejukan dari kain tersebut. Akan tetapi dengan perkembangan zaman warga setempat lebih dominan menggunakannya pada saat upacara adat yang digunakan untuk para laki-laki sebagai bebengkung atau sebagai ikat pinggang pada saat upacara adat.

4. Motif Ragi Genep

Kain tenun Khas Desa Sade, Lombok Tengah Motif Ragi Genep
Kain tenun Khas Desa Sade, Lombok Tengah Motif Ragi Genep

Kain Ragi Genep ini memiliki warna garis putih dan berwarna dasar merah marun. Arti dari Ragi Genep yaitu: Ragi artinya Bumbu sedangkan Genep artinya Lengkap. Dari segi pewarnaan yang digunakan yaitu lengkap maka dari itu kain ini dikatakan Ragi Genep. Motif kain ragi genep melambangkan kelengkapan jiwa spiritual

Motif ini biasanya digunakan untuk menambah aksesoris perempuan Sasak yang sebagai penambahan pada pakaian lambung untuk putri, lambung yaitu pakaian adat Suku Sasak berwarna hitam sedangkan warna yang digunakan pada kain tenun ini yaitu menggunakan semua warna. Selain itu kain ini juga digunakan oleh kebanyakan para pemuda atau orang-orang yang mau menikah dan dibuat dari warna kulit kayu lake.

5. Motif Kembang Komak

Kain tenun Khas Desa Sade, Lombok Tengah Motif Kembang Komak
Kain tenun Khas Desa Sade, Lombok Tengah Motif Kembang Komak

Kain tenun motif Kembang Komak ini memiliki motif kotak-kotak dengan garis berwarna putih dan warna dasar hitam. Motif ini dilihat dari unsur unsur agama memiliki makna bahwa kita berangkatnya dari kegelapan yang lahir kedunia yang dijumpai dengan adanya cahaya. Putih identik dengan terang benderang. Secara keseluruhan motif Kembang Kombang komak ini menggambarkan dasar dari diri manusia adalah yang berupa dari tanah, pertama awalnya dari putih menjadi warna merah, setelah menjadi warna merah barulah menjadi segumpalan darah dan distulah ditiupkan roh atau cahaya dan kita memiliki suatu perjanjian.

Dari segi bentuk yang berupa kotak-kotak yang bisa diartikan sebagai mulai dari kehidupan kita yang berbentuk kotak-kotak dan hidup ini ada dua warna yaitu warna hitam dan warna putih. Hidup itu harus netral dikarenakan hitam dan putih itu merupakan warna yang netral. Dapat diartikan bahwa kita sebagai umat manusia tidak boleh merasa paling hebat dan lupa bahwa sebenarnya kita berawal dari kegelapan.

Kain tenun dengan motif kembang komak sering digunakan dalam acara sorong serah pada saat melamar seorang gadis dan memiliki makna seseorang wanita yang selalu membuat lelaki ingin memilikinya. Sering juga digunakan oleh laki-laki daam upacara adat mesejati yaitu nyelabar (memberitahukan pihak keluarga perempuan) bahwa anaknya telah dilarikan atau menikah.

6. Motif Bereng (Hitam)

Kain tenun Khas Desa Sade, Lombok Tengah Motif Bereng
Kain tenun Khas Desa Sade, Lombok Tengah Motif Bereng

Kain tenun bereng ini dinamakan kain bereng atau hitam dikarenakan warnanya yang dominan hitam. Kain tenun Bereng merupakan kain yang tidak memiliki motif, akan tetapi pada saat dilihat dengan jarak dekat, kain bereng memiliki motif garis yang berwarna abu-abu sehingga ketika dilihat dengan jarak jauh kain ini terlihat polosan saja. Bentuk kain ini hanya menggunakan warna hitam polos digunakan oleh para orang tua dan orang yang lagi sakit sebagai selimut untuk menghangatkan badan mereka dan kain tenun bereng ini juga digunakan waktu perayaan orang menikah. Kain Bereng menyimbolkan bahwa manusia adalah ciptan Tuhan yang berasal dari tanah maka manusiapun akan kembali ke tanah juga. Pada konteks ini tanah itu disimbolkan dengan warana hitam.

7. Motif Krodat

Kain tenun Khas Desa Sade, Lombok Tengah Motif Krodat
Kain tenun Khas Desa Sade, Lombok Tengah Motif Bereng

Pada motif ini memiliki warna merah hati sebagai warna dasarnya yang melambangkan  keberanian. Sedangkan untuk menghiasi warna merah hati tersebut terdapat garis yang memiliki warna kuning yang menyimbolkan ketentraman dalam berkeluarga. Pada bagian garis memiliki 4 setiap garis, garis tersebut terbagi pada horizontal dan vertikal yang setiap garisnya sebanyak 4-4 garis yang menyimbolkan 4 Nabi yang terpilih sebagai Nabi Ulil Azmi yaitu: Nabi Musa, Nabi Isa, Nabi Ibrahim dan yang terakhir Nabi Muhammad SAW. Sedangkan 4 garis lagi menyimbolkan 4 nama kitab yang wajib diketahui yaitu: Kitab Taurat, Kitab Zabur, Kitab Injil, dan Al-Qur’an. Pada warna putih yang terletak bagian bawah kain menyimbolkan kesucian hati, agar kita tidak merasa sombong terhadap sesama manusia supaya selalu mengingat Tuhan (Allah SWT). Kain ini biasa dipergunakan pada saat adat upacara pernikahan sorongserah ajikrame sebagai ajen-ajen.

Refrensi : Skripsi Mardiyanti (2016) yang berjudul Kain Tenun Tradisional Dusun Sade, Rembitan, Pujut, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, Universitas Negri Yogyakarta.

Komentar