5 Jenis Motif Kain Tenun Khas Desa Sukarara, Lombok Tengah dan Makna Motif Nya

Motif Kain Tenun Khas Sukarara, Lombok Tengah, foto : tiket.com

Kegiatan menenun atau nyensek (Bahasa Sasak)  merupakan tradisi turun temurun yang telah diwariskan oleh pendahulu ke generasi selanjutnya. Kegiatan menenun atau nyesek ini lazim dilakukan oleh perempuan. Pada tradisi terdahulu nyesek atau menenun menjadi ketrampilan yang wajib bagi perempuan dan biasanya menjadi syarat menikah atau sebagai daya tarik perempuan sasak.

Salah satu sentra pengerajin kain tenun yang masih bertahan hingga saat ini adalah Desa Sukarara, Lombok Tengah, NTB. Bahkan pemerintah telah membuat sebuah kegiatan tahunan khusus untuk kegiatan nyensek yang dinamakan begawe jelo nyensek, dimana hari itu para penenun yang ada di Desa Sukarara melakukan kegiatan nyensek atau menenun bersama.

Motif kain tenun atau songket khas Desa Sukarara pada umumnya terbentuk dari perpaduan motif geometris seperti persegi panjang, persegi empat, garis memanjang, dan segitiga. Motif yang akan dibuat ditentukan pada saat proses penghanaian benang pakan dengan alat tradisonal. Motif atau reragian terbentuk dari persilangan benang pakan dan benang lungsin. Benang pakan merupakan benang dengan arah vertikal mengikuti panjang kain, sedangkan benang lungsin adalah benang dengan arah horizontal atau mengikuti lebar kain. Meski banyak motif kain songket yang ada saat ini, hanya beberapa motif saja yang sangat dikenal oleh masyarakat di Desa Sukarara. Diantaranya adalah motif wayang, subahnale, keker atau merak, bintang empet, dan alang atau lumbung.

1. Motif Wayang

kain tentun songket khas sukarara lombok motif wayang
Kain Tentun Songket Khas Sukarara Lombok Tengah, Motif Wayang

Motif wayang merupakan salah satu motif yang sudah ada sejak masa pemerintahan raja Panji Sukarara dan Dinde Terong Kuning. Motif ini terdiri dari dua bentuk manusia yang digambarkan berbentuk wayang dan  diantaranya terdapat sebuah objek yang menyerupai payung. Motif wayang ini menyerupai bentuk pasangan dengan sebuah payung dalam acara nyongkolan.

Selain itu, terdapat beberapa objek geometris sebagai penghias yang mengelilingi motif utama diantaranya bentuk segitiga yang digabungkan hingga menyerupai seperti bentuk bunga. Bunga tersebut ialah bunga tanjung. Di bagian bawah kain songket juga ditambahkan dengan gabungan beberapa motif geometris yang berfungsi sebagai pembatas bagian tepi bawah kain. Pembatas kain tersebut menggunakan jenis pola pinggiran dimana motif diletakkan pada pinggir kain secara berhungan.

Warna dasar yang digunakan adalah warna gelap seperti warna merah marun. Warna motif menggunakan warna yang kontras seperti warna putih, biru muda, atau warna kuning cerah. Motif wayang termasuk ke dalam motif dekoratif dimana objek utama pada motif wayang meniru bentuk manusia yang kemudian digayakan menjadi bentuk wayang. Pola yang digunakan adalah pola tebar dimana motif diletakkan pada jarak yang teratur. Jenis motif ini juga hanya menutupi sebagian dari kain dasar. Prinsip pembuatan pola menggunakan prinsip pengulangan dan selang – seling berlawanan. 

Makna simbolik yang terkandung dalam kain ini ialah manusia tidak dapat hidup sendiri, harus saling terbuka dan menghormati satu sama lain. Ajaran tersebut sangat dipengaruhi oleh Islam. Seperti halnya dalam kisah pewayangan masyarakat suku Sasak yang menceritakan tentang kisah seorang raja bijaksana yang hidup berdampingan dengan rakyatnya. Tokoh Jayangrana  merupakan seorang raja Mesir yang memeluk agama Islam. Dia adalah raja yang sangat bijaksana dan terbuka. Dia selalu menghormati orang lain sehingga rakyat sangat segan kepadanya.

2. Motif Subahnale

kain tentun songket khas sukarara lombok motif Subahnale
Kain Tentun Songket Khas Sukarara Lombok Tengah Motif Subahnale, foto : b3tb.pu.go.id

Secara umum, motif subahnale ini berbentuk seperti bunga ceplok dengan dikelilingi motif geometris yang disebut kurungan. Kurungan dengan motif bunga di bagian tengah merupakan ciri khas dari kain songket subahnale. Model kurungan sendiri ada bermacam – macam. Ada yang tegas berbentuk segi enam ada yang hampir berbentuk lingkaran. Sebagian besar kurungan menyerupai bentuk sarang lebah. Motif subahnale juga telah mengalami pengayaan bentuk sehingga termasuk dalam motif dekoratif. Motif subahnale merupakan motif yang menutupi seluruh area kain dasar. Pola yang digunakan ialah pola berangkai dimana motif diletakkan dengan pola tebar yang saling terhubung antara motif satu dengan yang lain baik secara vertikal, horizontal maupun diagonal.

Prinsip pola dimana – mana juga digunakan untuk membuat permukaan kain terisi seragam. Prinsip pola penyusuna berlawanan juga diterapkan dengan cara berlawanan dalam pengulangan warna. Di bagian bawah atau samping kain songket, terdapat beberapa gabungan motif geometris yang dijadikan sebagai pembatas tepi kain. Bentuk geometris gabungan tersebut menyerupai bentuk segitiga dan belah ketupat. Warna dasar yang digunakan dalam membuat songket motif subahnale ini adalah hitam dan merah marun.

Motif subahnale pertama kali digunakan pada masa pemerintahan Raja Panji Sukarara dan Dinde Terong kuning. Motif subahnale merupakan motif yang dikembangkan dari motif wayang. Namun motif subahnale lebih dikenali oleh masyarakat karena tingkat kerumitan pada saat proses pembuatannya. Kata subahnale merupakan kata yang diambil dari bahasa arab subhanallah yang berarti Maha Suci Allah. Masyarakat Desa Sukarara mengucapkan kata subhanallah dengan ucapan subahnale karena dipengaruhi oleh dialek setempat. Subahnale di ucapkan oleh masyarakat Desa Sukarara sebagai ungkapan pujian kepada Allah. Pujian ini banyak terdengar ketika masyarakat sedang nembang. Nembang merupakan kegiatan membaca cerita lama yang tertulis dalam naskah dalam bentuk lagu. Kata subahnale ini sering digunakan sebagai kata awalan dalam memulai sebuah cerita. Songket subahnale ini merupakan kain songket dengan tingkat kerumitan tertinggi. Konon, tidak semua orang bisa menenun kain songket jenis ini. Hanya orang – orang berdarah biru atau bangsawan yang bisa menenun songket subahnale. Jika seseorang yang tidak termasuk dalam golongan bangsawan menenun kain songket jenis ini, maka dia akan jatuh sakit. Hal ini dikarenakan masyarakat Desa Sukarara masih percaya bahwa kegiatan menenun kain songket adalah kegiatan yang sakral. Kain songket subahnale ini merupakan kain songket yang sangat terkenal. Tidak hanya tingkat kerumitan selama proses pembuatannya, tetapi keindahan estetika baik dari segi motif maupun warnanya telah menjadikan kain songket subahnale ini memiliki daya tarik tersendiri. Selain itu, kain songket subahnale juga memiliki makna yang berhubungan dengan dunia spiritual dan sakral.

Dilihat dari nama motifnya saja sudah terlihat jelas bahwa kain songket ini berhubungan dengan spiritual. Songket subahnale ini memiliki makna Yang Maha Esa atau Yang Maha Kuasa. Hal ini dikarenakan selama proses pembuatannya, penenun selalu mengingat tentang keberadaan Tuhan Yang Maha Kuasa. Dengan tingkat kerumitan tertinggi, para penenun harus bersabar dan selalu berserah diri kepada Tuhan agar proses pembuatan songket subahnale ini berjalan lancar. Dalam proses tersebut, masyarakat menggunakannya sebagai salah satu wirid yang diucapkan untuk selalu dekat dengan Yang Maha Kuasa. Setelah proses pembuatan songket subahnale selesai, penenun akan mengucapkan kata subhanallah atau dalam dialek Sasak diucap subahnale.

Masyarakat Desa Sukarara percaya nama songket subahnale diangkat dari sebuah cerita yang sangat terkenal. Konon ada sebuah kisah yang menceritakan tentang seorang gadis penenun yang sedang membuat songket subahnale ini. Ketika proses menenun, gadis itu sangat lelah dan harus bersabar menunggu ketika kain songket ini selesai. Karena kerumitan motifnya, kain songket ini butuh waktu yang cukup lama dalam penyelesaiannya. Ketika proses menenun selesai, gadis itu terheran melihat keindahan kain yang dibuatnya sehingga mengucapkan kata subhanallah atau subahnale sebagai ungkapan pujian atas kekuasaan Allah Swt. Cerita inilah yang dipercaya masyarakat luas tentang sejarah awal mula kain songket subahnale.

3. Motif Keker atau Merak

kain tentun songket khas sukarara lombok motif Keker atau Merak
Kain Tentun Songket Khas Sukarara lombok Tengah Motif Keker atau Merak 

Bentuk motif keker atau merak ini meyerupai bentuk sepasang burung merak yang sedang bertengger di sebuah pohon. Seperti halnya motif yang lain, warna dasar yang biasa digunakan ialah warna warna gelap seperti biru tua atau hitam. Sedangkan warna motifnya sendiri akan menggunakan warna yang kontras dengan warna dasar seperti warna kuning cerah atau emas. Motif keker atau merak ini biasanya menutupi sebagian dari kain utama. Pola yang digunakan adalah pola berangkai dimana motif saling terhubung berarah horizontal. Prinsip pola yang diterapkan adalah prinsip pengulangan linier dimana motif mengalami pengulangan dari garis yang pasti. Isian juga ditambahkan di beberapa bagian kain dengan motif geometris untuk mengisi area kain. Motif isian tersebut merupakan gabungan motif geometris yang menyerupai bunga. Motif geometris juga terdapat pada pinggiran kain yang digunakan sebagai hiasan pinggir kain songket. Motif yang digunakan adalah motif geometris bentuk meander dan pilin serta gabungan bentuk garis yang membentuk segi tiga. Terkadang penenun akan menempatkan motif hiasan pinggir di bagian bawah atau pun samping kain.

Merak merupakan salah satu jenis burung yang sangat indah. Keindahan burung merak bisa dilihat ketika ekor burung merak sedang mekar. Hal ini akan terjadi ketika burung merak akan memasuki masa kawin. Keindahan bentuk dan warna burung merak sangat indah dengan sebuah mahkota diatas kepalanya menjadikan burung merak terlihat seperti seorang putri atau pangeran dengan gaun yang menawan. Keindahan burung merak menginspirasi masayarakat Desa Sukarara membuat songket motif keker atau merak.

Motif keker atau merak juga sering disebut sebagai motif bulan madu karena motif ini merupakan motif yang melambangkan cinta suci yang abadi. Perlambangan cinta yang abadi bagi masyarakat Desa Sukarara diungkapkan dengan motif sepasang burung merak yang sedang memadu kasih. Kain songket keker atau merak ini biasa digunakan masyarakat saat pergi ke pesta. Sebagian besar masyarakat juga percaya jika pasangan pengantin menggunakan kain ini saat prosesi adat perkawinan akan membuat hubungan cinta mereka abadi selamanya.

4. Motif Bintang Empat

kain tentun songket khas sukarara lombok tengah motif bintang empat
Kain Tentun Songket Khas Sukarara lombok Tengah Motif Keker atau Merak, foto : hikayatjonggat.com

Motif bintang empat merupakan salah satu motif kain songket Desa Sukarara. Bentuknya mirip seperti bunga ceplok di atas bidang kotak memanjang. Di bagian tengahnya berbentuk bintang empat. Istilah bintang empat sendiri berkaitan dengan arah mata angin yang terinspirasi dari munculnya bintang timur sebagai pertanda bahwa fajar telah tiba. Warna dasar kain biasanya menggunakan warna gelap seperti warna hitam dengan warna kontras sebagai warna motif. Namun, di era tahun 2000-an penggunaan komposisi warna dasar dan warna motif telah berubah. Warna dasar kain songket yang biasanya berwarna gelap berubah menggunakan warna – warna terang, seperti warna oranye, putih atau kuning. Hal ini disebabkan oleh permintaan konsumen. Pola yang diterapkan dalam kain songket ini biasanya menggunakan pola tebar dengan prinsip pengulangan linier.

Motif bintang empat memiliki makna tersendiri. Motif ini dipercaya sebagai simbol arah mata angin untuk menentukan penanggalan. Para leluhur biasa menggunakan bintang sebagai patokan untuk menentukan kapan musim panas dan musim hujan tiba. Penentuan musim dibutuhkan untuk menentukan kapan waktu yang tepat untuk memulai bercocok tanam.

5. Motif Alang atau Lumbung

kain tentun songket khas sukarara lombok motif Alang atau Lumbung
Kain Tentun Songket Khas Sukarara lombok Tengah Motif Lumbung atau Alang, foto : hikayatjonggat.com

Lumbung merupakan bangunan tradisional suku Sasak yang digunakan sebagai tempat penyimpanan hasil bumi. Masyarakat suku Sasak akan menyimpan bahan makanannya di dalam lumbung setelah masa panen berlangsung. Hal ini untuk mengantisipasi terjadinya musim kemarau atau kekeringan yang akan menyebabkan masyarakat gagal panen. Selain itu, bentuk bangunannya juga di bentuk seperti rumah panggung untuk menghindari gangguan hama seperti tikus. Motif alang atau lumbung ini juga memiliki makna tertentu yang dipercaya oleh masyarakat suku Sasak umumnya, dan masyarakat Desa Sukarara khususnya. Motif alang atau lumbung dianggap sebagai simbol kesejahteraan dan kemakmuran. Seperti  halnya alang yang memiliki fungsi sebagai tempat penyimpanan bahan makanan atau hasil bumi.

Dilihat dari nama motifnya, motif alang digambarkan seperti gambar alang atau lumbung dengan empat tiang yaang telah mengalami pengayaan bentuk. Motif ini juga termasuk ke dalam motif dekoratif. Pola yang digunakan adalah pola tebar dengan penempatan motif pada jarak yang teratur searah. Sedangkan prinsip pola menggunakan prinsip pengulangan formal dimana motif mengalami pengulangan yang sama dan serupa. Selain itu, prinsip penyusunan pola berlawanan juga diterapkan dengan mengalami pengulangan warna secara berlawanan. Warna dasar atau warna pakan yang biasa digunakan adalah warna gelap seperti hitam atau merah gelap. Motif isian juga dimasukkan untuk menghias bagian permukaan yang kosong. Pada kain songket ini, motif yang digunakan untuk menghias permukaan kain adalah motif geometris berbentuk pilin serta bentuk menyerupai belah ketupat. Terdapat juga motif yang menyerupai bunga yang terbentuk dari gabungan beberapa motif geometris. Setiap pinggiran kain songket akan diperindah dengan menambahkan motif geometris sebagai penghiasnya. Motif geometris ini merupakan motif pembatas tepi kain yang termasuk dalam pola pinggiran. Prinsip pola yang digunakan adalah prinsip penyusunan pola linier. Bentuk motif pembatas tepi kain berbentuk segi tiga yang saling berhubungan membentuk motif tumpal. Komposisi motif kain songket motif lumbung biasanya mentupi sebagian dari keseluruhan kain dasar. Motif lumbung merupakan motif utama kain songket.

Refrensi : Skripsi Yulinda Misnawati (2016) yang berjudul Makna Simbolik Kain Songket Sukarara Lombok Tengah Nusa Tenggara Barat (NTB), Universitas Negri Yogyakarta.

Komentar