Acara Sedeka Orong di Ai Renung, Desa Batu Tering Sumbawa

Ilustrasi Sedekah Orong Warga Mantar, Warnai Festival Mantar 2018 (foto: post Kota)

Sedeka orong merupakan ritual rutin yang dilakukan setahun sekali pada bulan Oktober sebelum musim tanam padi oleh komunitas pemilik sawah di kawasan Ai Renung di Desa Batu Tering, Kecamatan Moyo Hulu, Kab. Sumbawa Besar dan dipusatkan di situs Ai Renung 2 (lihat gambar 5). Ritual sedeka orong telah berlangsung setidaknya selama lima generasi, bersifat sangat eksklusif karena tertutup bagi orang luar, dan tidak boleh didokumentasikan dalam bentuk foto maupun video. Menurut keyakinan mereka pelanggaran terhadap aturan ini, bisa mengakibatkan kegagalan panen ataupun bencana alam. Mereka juga percaya, jika upacara ini tidak dilaksanakan akan mengakibatkan bencana berupa gagal panen. Pernah dalam suatu masa masyarakat Desa Batu Tering tidak melaksanakan ritual ini dan menimbulkan kegagalan panen di tahun yang sama, sehingga kemudian masyarakat Batu Tering tidak lagi berani meninggalkan ritual sedeka orong. 

Ritual sedeka orong ini diikuti oleh 30-40 orang pasangan suami istri dipimpin oleh oleh seorang dukun. Jabatan dukun ini merupakan hal yang menarik untuk dikaji karena penunjukkannya bukan melalui pemilihan melainkan melalui wangsit. Bapak Yusuf menjadi dukun acara ini sejak tahun 2013 menggantikan dukun sebelumnya, yakni Bapak Anwar yang sudah tua dan sakit-sakitan. Pada suatu malam Bapak Anwar bermimpi bahwa Yusuf lah orang yang tepat untuk menggantikan posisinya sebagai dukun dan mernerima ilmu darinya. Seorang dukun memegang peran penting karena dia harus menjamin kelancaran ritual. Apabila ritual sedeka orong tidak berlangsung lancar atau ada gangguan, akan menyebabkan sang dukun sakit dan kegagalan panen.

Ritual sedeka orong ini dilaksanakan di situs Ai Renung 2, karena menurut kepercayaan mereka, situs Ai Renung 2 merupakan pusat bersemayamnya para leluhur mereka. Ruang utama ritual adalah areal sekitar sarkofagus. Persiapan ritual dilakukan pada malam sebelumnya. Kaum perempuan menyiapkan nasi ketan yang terdiri dari empat warna, yakni ketan hitam, ketan putih, ketan merah, dan ketan kuning. Ketan tersebut dimasak dengan dicampur air santan dan garam sehingga berasa gurih. Setiap keluarga memasak tiga kilogram ketan, satu kilogram dibawa ke tempat ritual, sementara dua kilogram lainnya dibagikan ke tetangga yang tidak mengikuti ritual karena tidak memiliki sawah di Ai Renung. Ketan untuk sesaji ritual harus dimasak terlebih dahulu, sebelum ketan dikonsumsi. Cara memasak ketan untuk sesaji dan untuk dibagikan berbeda. Ketan untuk sesaji dimasak biasa, santan kelapa diletakkan terpisah, dan saat memasak tidak boleh dicicipi. Sementara itu, ketan untuk dibagikan, dimasak dengan dicampur air santan dan garam supaya gurih dan boleh dicicipi.

Ritual berlangsung dari pukul 10.00-15.00 WITA dan peserta ritual hadir di lokasi situs Air Renung 2 pukul 08.00 WITA dengan membawa sesaji. Perlengkapan ritual berupa ketan, sirih pinang, dan empat ekor ayam yang berbeda warna bulunya dibawa menuju lokasi ritual, yaitu satu ekor ayam berwarna putih, satu ekor ayam berwarna hitam, satu ekor ayam memiliki tiga warna (putih, hitam, coklat), dan satu ekor ayam biasa. Ayam khusus untuk ritual tidak boleh dikonsumsi untuk peserta ritual. Apabila mereka ingin makan ayam, harus menyembelih ayam yang lain.

Sesampainya di lokasi, ritual diawali dengan pembuatan obat padi dengan cara menumbuk ramuan yang terdiri atas beras, kunyit, kemiri, dan daun jeringau (Acorus calamus), dengan menggunakan lumpang kayu. Jeringau (Acorus calamus) atau dalam istilah lokal disebut dlingo memang dikenal sebagai tanaman obat-obatan (Monk 2000: 661). 

Semua peserta ritual diwajibkan ikut menumbuk ramuan di dalam lumpang secara bergantian. Setelah semua orang mendapat kesempatan menumbuk, obat padi disimpan dalam wadah kecil. Pemimpin ritual kemudian menyiapkan lima wadah sesaji terbuat dari anyaman bambu yang disebut dengan ancak yang diletakkan di bagian atas sarkofagus yang permukaannya datar. Masing-masing ancak berisi empat kepalan tangan ketan berwarna hitam, putih, merah, dan kuning. Selain itu juga diisikan untaian daun sirih yang dibentuk khusus berisi kapur dan tembakau yang disebut mama pekok, rokok terbuat dari lontar, telur ayam matang seperempat butir, kiping (panganan terbuat dari ketan), dan biti (penganan dari beras). Pemimpin ritual atau dukun kemudian menyembelih ayam berwarna hitam. Setelah itu, bagian kepala dan hatinya diambil dan diletakkan di ancak pertama. Darah penyembelihan ayam dicampurkan ke dalam ancak tersebut. Selanjutnya, disiapkan ancak kedua, hanya saja ayam yang disembelih adalah ayam berbulu tiga warna, yakni coklat, hitam, dan putih. Pada ancak ketiga disembelih ayam berwarna putih, sedangkan ancak keempat dan kelima disembelih yam biasa bisa berwarna apa saja. Setelah semua ancak selesai, dukun akan mengambil tanah di sekitar sarkofagus sejumlah lima kepalan tanah yang masing-masing dibungkus dalam satu kantong plastik. Setelah itu, dukun akan memimpin ritual dengan membacakan doa dan mantra-mantra khusus. Kelima ancak kemudian disebarkan kelima penjuru, yakni situs Ai Renung 2, Bukit Batu Beta, Buin, Gunung Ala, dan Bukit Sangka Bulan. 

Pemimpin ritual membagi lima kelompok yang terdiri dari tiga sampai sepuluh orang laki-laki yang masing-masing diberi tugas mengantar satu ancak dan satu plastik kepalan tanah dari situs Ai Renung 2. Satu kelompok diberi tugas mengantar ancak ke satu lokasi. Ancak yang berisi ayam hitam dan sesaji, diletakkan di situs Ai Renung 2 yang merupakan lokasi ritual. Ancak kedua yang berisi ayam berbulu tiga warna, sesaji lain dan satu kepalan tanah situs Air Renung 2 dikirim ke lokasi Batu Beta. Ancak ketiga berisi ayam berwarna putih dan sesaji lain dikirim ke lokasi Buin (air terjun), ancak ke empat berisi ayam biasa dikirim ke lokasi Gunung Ala, sedangkan ancak kelima yang berisi ayam biasa dikirim ke lokasi Sangka Bulan. 

Masing-masing kelompok ini harus mengantarkan ancak berisi sesaji dan juga sebungkus tanah ke lokasi yang dituju. Sementara itu, peserta upacara yang tidak ikut ke lokasi harus duduk diam, tanpa boleh banyak bergerak atau bercakap-cakap menunggu sampai semua kelompok tiba kembali di situs Air Renung. Setiap kelompok yang telah sampai di lokasi tujuan kemudian meletakkan ancak. Tanah yang dibawa dari situs Ai Renung 2 ditaburkan di lokasi yang dituju, dan kemudian mereka berkewajiban membawa tanah dari lokasi tersebut untuk dibawa dan ditempatkan di lokasi situs Ai Renung. Setelah itu, kelompok harus kembali ke situs Ai Renung 2. Setelah semua kelompok tiba kembali di Ai Renung 2, pemimpin ritual akan mengumpulkan empat bungkusan tanah dari Batu Beta, Buin, Gunung Ala, dan Sangka Bulan. Tanah tersebut kemudian ditaburkan ke situs Ai Renung 2. 

Ritual sedeka orong ditutup dengan membakar sisa ayam di mana bagian kepala dan hatinya telah diambil untuk sesaji dan juga ayam-ayam lain yang memang dipersiapkan untuk dikonsumsi. Ayam-ayam ini dibakar di lokasi dan kemudian dinikmati oleh semua peserta ritual, kecuali pemimpin ritual (dukun) yang hari itu harus berpuasa. Setelah acara makan selesai, peserta ritual boleh meninggalkan lokasi ritual, masing-masing dengan membawa obat padi yang ditumbuk bersama-sama pada awal upacara. Obat padi ini dibawa pulang dan akan dimanfaatkan saat padi mulai tumbuh untuk mencegah hama penyakit. 

Ritual sedeka orong bertujuan untuk mempersatukan roh leluhur supaya tidak mengganggu tanaman. Sepanjang upacara semua peserta tidak boleh bicara dan banyak bergerak kecuali saat menumbuk obat padi. Tradisi ini telah berlangsung puluhan tahun bahkan mungkin ratusan tahun lalu, dan nampaknya masih tetap akan bertahan. Hasil wawancara dengan para informan yang berusia muda, hampir seluruhnya tidak ada yang berani mengabaikan ritual sedeka orong, karena takut akan mengakibatkan gagal panen. Pada tahun 2010, ritual sedeka orong pernah direkam dengan kamera, dan pada tahun yang sama hasil panen sangat buruk, sehingga larangan mendokumentasikan acara atau dilihat orang di luar komunitas mereka tetap berlaku sampai saat ini.

Tugas pemimpin ritual cukup berat karena harus memimpin ritual dalam keadaan puasa. Sang dukun tidak mendapatkan upah secara langsung, namun jika kelak hasil panen bagus, maka masyarakat akan mengirimkan Sebagian hasil panen ke dukun. Pada saat panen, tidak ada upacara besar, namun siapapun yang memulai panen pertama kali di wilayah ini wajib mengadakan upacara kecil bersama sang dukun dengan membawa sesaji berupa nasi beras berjumlah empat kepalan tangan, telur ayam satu butir dibagi empat, dan sejumput garam yang  diletakkan dalam wadah anyaman bambu, kemudian bersama sang dukun diletakkan di sarkofagus situs 2. Upacara ini hanya diwajibkan bagi orang yang mengawali panen, sementara orang lain tidak lagi memerlukan upacara ini karena sudah diwakili oleh yang mengawali panen. Dengan demikian, setidaknya sarkofagus ini dimanfaatkan setahun dua kali untuk kegiatan upacara, yakni sedekah orong saat mulai tiba masa tanam, dan upacara mengawali panen sebagai ungkapan syukur.

Sumber : Handini Retno, 2017, Sarkofagus Dan Ritual Sedeka Orong Di Situs Ai Renung, Sumbawa, Naditira Widya Vol. 11

Komentar